8 Masalah Puasa Kontemporer yang Kerap Bikin Kamu Bertanya-tanya, Bikin Batal Nggak Sih?

|

Sebelum teknologi berkembang dan memasuki setiap lini kehidupan manusia, persoalan mengenai apa saja yang membatalkan puasa hanya sebatas hal-hal umum yang sudah sering kita pelajari di mata pelajaran Agama Islam saat sekolah. Seperti makan minum dengan disengaja, jima’ atau berhubungan badan suami istri, keluar mani dengan sengaja, muntah disengaja, haid atau nifas, gila atau hilang akal, dan murtad. Namun seiring perkembangan teknologi di berbagai bidang termasuk kedokteran, hal-hal yang dikhawatirkan dapat membatalkan puasa menjadi perdebatan di kalangan ulama dan ahli kesehatan.

Mungkin sebagian dari kamu pernah bertanya-tanya, bolehkah donor darah ketika sedang puasa? Atau bolehkah menggunakan inhaler bagi penderita asma ketika puasa? Dan berbagai masalah kontemporer lainnya. Hipwee telah merangkum 8 masalah puasa masa kini terkait dengan semakin beragamnya teknologi yang muncul di kehidupan manusia. Simak ya supaya kalian nggak perlu bimbang lagi!

1. Suntikan atau injeksi

Jarum suntik via peluangbisnismoment.com

Perlu diketahui lebih dulu bahwa terdapat 3 jenis injeksi. Pertama injeksi melalui kulit, melalui otot, dan melalui pembuluh darah. Tujuan dari injeksi itupun sebenarnya beragam. Ada yang untuk pengobatan dan ada yang untuk menambahkan vitamin. Perdebatan ulama menyimpulkan bahwa injeksi dengan tujuan pengobatan seperti insulin, vaksinasi, antinyeri, antihistamin, tidak membatalkan puasa. Sedangkan injeksi yang mengandung makanan atau vitamin seperti glukosa dan infus, akan membatalkan puasa.

2. Donor darah

Mendonorkan darah via www.alodokter.com

Pada tahun 2000, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah memberikan fatwa mengenai donor darah saat puasa Ramadan. Kesimpulannya, saat puasa kita diperbolehkan mendonor darah. Apalagi jika tujuannya untuk membantu sesama. Meski donor darah tidak membatalkan puasa, calon pendonor sebaiknya tetap mementingkan kesehatan mereka. Jika setelah donor khawatir akan lemas dan berujung pada niat membatalkan puasa, sebaiknya donor darah tidak dilakukan. Sedangkan untuk penerima donor atau transfusi, puasanya akan batal, termasuk cuci darah.

3. Inhaler dan nebulizer

Bagi kamu penderita asma pasti akrab dengan dua alat tersebut. Inhaler dan nebulizer adalah sebuah alat hirup yang biasa digunakan penderita asma ketika sedang kambuh. Untuk penderita kronis biasanya akan diharuskan menghirup inhaler 3-6 jam sekali. Menurut sebagian besar ulama, penggunaan inhaler atau nebulizer ketika berpuasa tidak akan membatalkan. Hal ini karena kandungan cairan yang disemprotkan tidak lebih banyak dari sisa air yang tertinggal di mulut setelah berkumur. Padahal berkumur sudah jelas tidak membatalkan puasa.

4. Pengobatan di dokter gigi

Periksa gigi via raleighncdentistry.com

Menjaga kesehatan gigi dan mulut akan membawa banyak manfaat mengingat mulut adalah tempat di mana makanan dan minuman masuk ke tubuh. Jika tidak dijaga kesehatannya, akan jadi sarang berbagai kuman dan virus. Saat puasa, terkadang kita bimbang apakah akan tetap melakukan kontrol rutin ke dokter gigi atau tidak, dengan alasan takut membatalkan puasa. Ternyata sebagian besar ulama sepakat bahwa periksa gigi tidak akan membatalkan puasa. Meski terkadang kita tidak sengaja menelan air kumur atau darah. Tapi jika memang ragu dan tidak sedang dalam keadaan darurat ke dokter gigi, sebaiknya ditahan hingga tiba waktu berbuka.

5. Anestesi

Tidak jarang orang diharuskan melakukan operasi ketika sedang berpuasa. Sebagian operasi mengharuskan orang untuk dibius atau anestesi. Anestesi sendiri ada 3 jenis, yaitu anestesi melalui hidung (hirup), anestesi kering (akupuntur Cina), dan anestesi suntik. Untuk anestesi suntik berlaku hukum injeksi seperti yang sudah dibahas pada poin satu. Namun yang perlu dipahami mengenai apakah anestesi membatalkan puasa, pedomannya adalah jika bius menyebabkan seseorang tidak sadar seharian penuh maka puasanya menjadi tidak sah atau batal. Lain halnya jika tidak sadar beberapa saat, puasanya tetap bisa dilanjutkan.

6. Tetes hidung atau semprot hidung

Obat tetes hidung via www.alodokter.com

Obat tetes hidung biasa digunakan seseorang ketika hidung tersumbat akibat flu. Kondisi hidung tersumbat memang menjadi hal yang tidak disukai orang karena mengganggu pernafasan. Dalam kondisi berpuasa, tidak jarang orang terkena flu dan mengalami hidung tersumbat. Hukum mengenai obat ini telah menjadi perdebatan sebelumnya. Namun para ulama telah sepakat bahwa obat tetes atau semprot hidung tidak akan membatalkan puasa.

7. Tetes telinga

Cairan tetes telinga via www.obatpusing.com

Sama halnya dengan tetes hidung, obat tetes telinga digunakan seseorang yang mengalami masalah di telinganya, seperti radang telinga. Radang telinga bisa disebabkan oleh virus, bakteri, atau jamur. Biasanya penderita akan merasakan pendengarannya berdenging, telinga gatal, panas, dan perih, serta ruam di sekitar telinga. Beberapa bahkan mengalami pusing. Ketika berpuasa bisa saja seseorang mengalami radang telinga yang tentunya akan sangat mengganggu. Setelah mencapai kesepakatan, mayoritas ulama sepakat bahwa obat ini tidak membatalkan puasa.

8. Endoskopi

Endoskopi via atayolu.org

Endoskopi adalah salah satu cara yang kerap digunakan dokter untuk melihat keadaan lambung dengan tujuan mendiagnosis luka atau peradangan. Caranya dengan memasukkan alat yang dilengkapi kamera melalui kerongkongan. Seperti yang kita tahu, setiap yang sampai ke kerongkongan dan menetap di dalamnya akan membatalkan puasa. Lalu bagaimana dengan endoskopi? Terdapat dua pandangan berbeda, namun kesepakatan mayoritas ulama adalah endoskopi tidak membatalkan puasa jika tidak meninggalkan sesuatu di dalam lambung. Contohnya jika alat dilapisi minyak atau pelumas sebelum masuk ke dalam kerongkongan. Tentu saja ketika alat dikeluarkan, cairan tersebut akan tertinggal di dalam dan menyebabkan puasa tidak sah.

Wallahu’alam bishawab. Itulah permasalahan terkait puasa yang sering kita temui di zaman serba modern ini. Semoga bermanfaat Guys!