Bersyukurlah Kamu Bisa Buka Puasa Meski Seadanya. Muslim di Yaman Tidak Tahu Harus Makan Apa

|

Bulan suci hanya datang setahun sekali. Sudah sepatutnya disambut dengan gembira, karena setiap momennya terasa berbeda dengan hari-hari biasa. Mulai dari suasana yang meriah dengan banyaknya orang jualan menjelang buka puasa, tayangan-tayangan yang khas, suasana sahur yang semarak, sampai bukber-bukber dengan kawan lama.

Bersyukurlah kamu yang bisa merasakan itu semua. Karena saudara-saudara kita di Yaman, salah satu negara di Timur Tengah, nggak bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Perang yang berjalan bertahun-tahun mau tak mau merampas rasa bahagia yang harusnya mereka nikmati di bulan puasa. Seperti yang diulas oleh Aljazeera, puasa di Yaman tak sama seperti yang kita rasakan.

 

Puasa di siang hari, kelaparan di malam hari. Di Yaman buka puasa dengan daging, sayur, dan buah adalah mimpi

Warga Yemen berebut sumbangan makanan via kjvids.co.uk

Daging atau ayam, sop buah, dan gorengan adalah menu yang umum untuk kita berbuka puasa. Tapi di Yaman, sulit bagi kepala keluarga untuk memenuhi tuntutan gizi seperti yang disarankan oleh Menteri Kesehatan kita. Akibat perang, perekonomian Yaman memburuk. Sektor bisnis stagnan, dan gaji pegawai pemerintahan pun belum dibayar sejak berbulan-bulan, padahal harga bahan-bahan makanan melambung tinggi. Toko-toko sepi pembeli karena penduduk tak punya uang lagi. Sahur dan berbuka dengan makanan yang layak jadi momen yang jarang datangnya.

Bukan hanya lapar dan dahaga yang dihadapi orang Yaman. Tapi juga gizi buruk dan wabah kolera yang mengintai

Ancaman kolera di mana-mana via twitter.com

Yang namanya daerah perang pasti rentan dengan segala ancaman kesehatan. Di Yaman, bukan hanya asal lambung atau salah makan saja yang dihadapi sehari-hari, tapi juga ancaman wabah kolera. Untuk kamu yang belum tahu, kolera adalah penyakit menular yang menyerang saluran pencernaan dan disebabkan oleh bakteri. Tanpa penanganan yang tepat, tingkat kematiannya tinggi. Padahal fasilitas kesehatan yang berfungsi juga berkurang karena efek perang. Akhir Mei 2017, WHO Yemen memposting melalui twitter-nya bahwa ada 65.300 kasus kolera yang terjadi, lebih dari 500 di antaranya berujung kematian.

Jangankan tidur lelap seharian sambil menunggu azan magrib tiba. Siang hari puasa dijalani dengan kerja keras demi bisa makan saat buka puasa nanti

Keluarga kelaparan via donate.unhcr.org

“Saya lelah dan haus karena berjalan, dan saya puasa tanpa sahur yang layak.” Ungkap Fatima Salah (58 tahun) kepada Al Jazeera.

Bila nggak ada pekerjaan, tidur adalah kegiatan yang paling seru untuk menunggu waktu berbuka. Siang hari dihabiskan dengan tidur jelas membuat puasa tak berasa. Tapi muslim di Yaman nggak bisa menikmati itu semua. Fatima Salah harus berjalan ke desa-desa sebelah untuk mendapatkan makanan untuk buka puasa keluarga. Ada juga keluarga yang terpaksa membuat anaknya mengumpulkan sampah dan plastik untuk ditukar dengan sedikit uang. Makanan sesederhana gorengan yang bisa kita dapat hanya dengan jalan sedikit ke pinggir jalan, harus didapatkan mati-matian oleh rakyat Yaman.

“Ini adalah Ramadan, dan saya tercekik oleh kemiskinan. Saya butuh makanan untuk keluarga dan harus membayar 20.000 rial untuk sewa rumah. Saya punya dua ketakutan besar: kelaparan dan pengusiran.”

 

Perang Yaman sudah berlangsung sejak 2015. Penyelesaian belum ada, lagi-lagi rakyat kecil yang jadi korbannya

Rakyat sipil yang jadi korban via knowterrorists.com

Perang Yaman memang baru dimulai tahun 2015, namun konfliknya sudah dimulai lebih awal. Perang sipil ini melibatkan rezim pemerintah Abdrabbuh Mansour Hadi yang didukung oleh koalisasi negara-negara Arab dengan Kelompok Pemberontak Houthi yang mencoba menggoyang kekuasaan. Proses damai pernah dilakukan pada tahun 2016, namun tiga bulan kemudian gagal total. Sejak April 2015, sudah lebih dari 7,600 orang tewas dan 42,000 korban luka. Tak hanya itu, ada 17 juta orang terancam kelaparan. Praktis Yaman menjadi negara paling miskin di antara negara-negara Arab lainnya.

Ramadan harusnya menjadi bulan kemenangan untuk umat Islam. Tapi perang dan kelaparan membuat bulan suci orang Yaman jauh dari harapan

Ramadan tidak lagi spesial saat perang via hiveminer.com

“Ramadan adalah momen spesial. Sayangnya saya tidak lagi merasakan euforia itu karena perang Yaman…harga-harga makanan melambung tinggi dan uang sulit diperoleh.” ungkap Mohamed al-Mokhdari, kepada Al-Jazeera.

 

Bukan hanya bagi kita, Ramadan adalah momen spesial untuk seluruh Muslim di dunia. Sudah pasti semuanya ingin melewatkan Ramadan dengan tenang dan ibadah pun maksimal. Namun kejamnya perang sudah merenggut sensasi spesialnya bulan suci. Ya nggak bisa disalahkan. Siapa yang bisa tetap bahagia bila tak ada makanan layak untuk buka puasa, sementara sewaktu-waktu senjata bisa saja turun di atas kepala?

 

Kalau kamu anak rantau, mungkin puasa sedikit muram. Buka puasa dan sahur sendirian, menu pun seadanya saja. Tapi berkaca dari kisah pilu saudara-saudara kita di Yaman yang kesulitan makan, tentu nggak ada alasan kita untuk nggak bersyukur meski menu berbuka cuma itu-itu saja.