Sebaiknya Makan Dulu Apa Salat Magrib Dulu? Penjelasan Ilmiahnya Ada di Sini

|

Bedug magrib mungkin menjadi saat yang paling ditunggu selama bulan Ramadan. Segala perjuangan selama seharian rasanya telah terbayarkan dengan sebuah kemenangan saat mendengar azan magrib. Sebuah pertanyaan pun menjadi bahan pembicaraan. Mau makan dulu atau salat dulu? Mau makan dulu karena sudah terlalu lapar, namun berarti lebih mementingkan duniawi daripada menghadap kepada-Nya. Tapi kalau kamu menjalankan salat dulu, pasti kepikiran sajian buka puasa yang telah dihidangkan. Salat pun jadi tak fokus lagi.

Berikut penjelasan tentang lebih baik makan dulu atau salat dulu ketika bedug magrib mulai berkumandang.

1. Kebanyakan orang memang memilih untuk makan dahulu, baru menjalankan salat magrib setelahnya

Makan dulu~ via www.sickchirpse.com

Saat bulan puasa, begitu mendengar azan magrib, kebanyakan orang memang memilih untuk membatalkan puasanya terlebih dahulu dengan minum atau makan sesuatu, seperti minum teh hangat atau makan kurma. Lalu banyak juga yang langsung makan makanan berat seperti nasi beserta lauknya. Setelahnya, baru menjalankan salat magrib dalam keadaan perut yang kenyang.

2. Menurut hadis, dianjurkan untuk mendahulukan makan. Baru setelahnya bisa menjalankan ibadah salat

Makan dulu baru salat via www.bi1m.my

Dilansir dari muslim.or.id, Rasulullah SAW bersabda:

“Jika salat hampir ditegakkan (iqamah sudah dikumandangkan), sedangkan makan malam telah dihidangkan, maka dahulukanlah makan malam.” (HR. Bukhari no. 5465 dan Muslim no. 557)

Mendahulukan makan daripada salat dimaksudkan agar pada saat menjalankan ibadah kita bisa benar-benar fokus. Tidak lagi terpikirkan tentang hidangan buka puasa yang membuat ibadah kita tidak kusyu’. Selain itu, mendahulukan makan juga bisa dianggap demi bisa menjaga hak Allah atas ibadah kita.

3. Pengamalan hadis tentang mendahulukan makan tersebut ternyata tergantung pada kondisi masing-masing orang

Ada persyaratannya via www.dailymoslem.com

Seperti apa yang ditulis oleh Muh. Saifudin Hakim yang bersumber pada Taisiirul ‘Allaam (hal.71) menyebutkan bahwa ada beberapa persyaratan sebelum mengamalkan hadis tersebut. Di antaranya:

“Ketika seseorang memang membutuhkan untuk makan dan minum, misalnya dalam kondisi perut yang sangat lapar. Adapun jika tidak dalam kondisi lapar, maka tetap mendahulukan salat…”

 

“Jika waktu salat masih longgar. Sehingga ketika seseorang makan minum terlebih dahulu, dia masih bisa melaksanakan salat pada waktunya…”

 

“Seseorang tidak bersengaja menjadikan waktu makan dan minum bertepatan dengan waktu salat sebagai sebuah kebiasaan yang dilakukan secara rutin dan terus-menerus…”

 

“Makanan tersebut sudah siap disantap, bukan masih diracik atau masih dimasak…”

4. Secara medis, mendahulukan makan daripada salat magrib, juga memiliki maknanya tersendiri

Secara medis juga menjelaskan lho via www.kemenag.go.id

Makan dalam hal ini adalah mengonsumsi sesuatu yang manis-manis, seperti segelas teh hangat atau pun kurma. Secara medis ini dianjurkan sebelum melaksanakan salat, mengingat pada saat berpuasa seharian, kondisi liver kita akan kosong. Dibutuhkan sesuatu yang mengandung gula untuk bisa kembali mengisi liver kita tersebut. Apabila liver kita sudah mendapatkan asupan gula, maka liver akan bisa kembali menyalurkan zat-zat yang diperlukan oleh tubuh. Sehingga pada saat akan melakukan salat, pikiran kita bisa berkonsentrasi penuh untuk ibadah.

Secara medis juga dianjurkan agar kita tak terburu-buru untuk mengonsumsi makanan berat. Mengingat selama berpuasa, lambung kita tengah beristirahat. Berbuka puasa dengan makanan berat akan menambah kerja lambung menjadi lebih berat.

Jadi udah terjawab ‘kan pertanyaan yang selama ini muncul. Mau makan dulu atau salat dulu ketika azan magrib berkumandang? Baik secara medis maupun hadist menyarankan agar membatalkan puasa dengan makan terlebih dahulu.