Sebuah Surat untuk Ibu. Maaf, Anak Gadismu Ini Belum Bisa Pulang Lebaran Nanti

Andrall Intrakta Diysda Crahfidayinallah |

Lebaran yang tinggal menyisakan beberapa minggu lagi, kian membuatku begitu berat menjalani bulan Ramadan kali ini. Kalau boleh meminta, bisakah kita percepat atau bahkan kita lupakan saja Lebaran tahun ini? Rasanya begitu sedih, ketika aku tak bisa turut menyumbang canda tawa di hari raya nanti, bersama Bapak, Ibu, dan saudara-saudaraku yang lainnya.

Maka, dengan surat ini ingin kukirimkan berjuta bahasa maaf untukmu, Ibu, atas segalanya, termasuk absensiku pada hari raya tahun ini. Dengan surat ini pulalah, kurangkum segala rinduku padamu, Ibu, segala hal yang sebenarnya tak ingin kutulis karena air mata tentu akan membanjirinya.

 

Maaf, beberapa hari mendekati Lebaran baru kukabari padamu bahwa aku tak bisa pulang. Begitu mendadak, dan tangisku pun lantas meledak!

Cuma bisa telpon. via weloversize.com

Kali pertama, cuma maaf yang bisa kusampaikan padamu, Ibu. Maaf karena aku baru memberimu kabar bahwa aku tak jadi pulang kampung pada lebaran tahun ini. Aku tak sampai hati ketika kubilang tak bisa pulang saat Lebaran. Terlalu nelangsa merayakan hari raya di tanah orang sendirian.

Kau tahu, Bu? Begitu sesak dadaku ketika atasan memintaku untuk tetap masuk ketika orang-orang merayakan hari raya bersama keluarganya, sanak saudara, dan teman-teman karibnya. Sementara aku? Tuntutan pekerjaan yang membuatku terpaksa harus tetap tinggal di tanah rantau.

 

 

Mungkin saat hari raya, aku hanya bisa menghabiskan waktuku di kamar kos dengan ketupat sayur dari tetangga

Akan kurindui suasana seperti ini, Bu. via www.dapoeryuyu.com

Mungkin begitu adanya, Bu. Selepas salat Id, aku akan kembali ke kamar kosku, mengurung diri, menghabiskan waktu hingga esok pagi, dan kembali bekerja. Ya, mungkin ada satu-dua tetangga yang bisa kusapa dengan sedikit senyum ramah. Tapi senyum itu jelas hanya akan membuat dadaku kembali sesak. Betapa tidak, Bu? Jelas aku akan selalu teringat Ibu dan kampung halamanku. Bagaimana aku bisa menjalani hari raya di kampung orang?

Mungkin juga ada beberapa tetangga yang akan memberiku ketupat sayur, sebagai tanda bahwa mereka tengah merayakan hari raya. Dan itu juga membuatku teringat akan masakanmu, Bu. Ketupat sayur yang kita buat bersama di tahun-tahun sebelumnya. Masakanmu selalu enak, ya, Bu.

 

 

Padahal, Lebaran menjadi momen yang paling kita tunggu-tunggu ya, Bu? Berbagi segala hal berdua denganmu

Seperti momen ketika aku masih kecil, masak bersama. via thoughtco.com

Sangat disayangkan memang, ketika terpaksa aku tak bisa mudik tahun ini. Padahal, momen seperti inilah yang bisa mempertemukan kita kembali, seperti saat aku masih sekolah dulu. Kembali ke rumah, kembali mengulang masa lalu yang gilang gemilang bersama dalam ikatan keluarga. Aku sangat rindu padamu, Bu.

Malam takbiran. Ya, kita berdua sibuk dengan segala bahan makanan di malam takbiran, si bungsu yang lari-larian bermain petasan bersama saudara-saudara yang lain di halaman rumah, sementara kakek dan nenek duduk di teras sembari ngobrol segala hal dengan anak-anaknya. Aku sangat rindu suasana seperti itu, Bu.

 

 

Sekali lagi maafkan anakmu ini, Bu, belum bisa pulang dan mewujudkan segala cita-citanya. Terlebih harapanmu padaku, anak gadismu

Rindu berbincang denganmu, Bu. via dbydenise.com

Rasa-rasanya kerinduan ini harus kita pupuk untuk beberapa waktu, biarkan samudera kesabaran menenggelamkan kita. Mungkin aku bisa ambil cuti bulan depan? Semoga saja, ya, Bu. Tapi yang pasti, Bu, aku hanya bisa meminta maaf padamu, sekali lagi. Maaf, karena aku belum bisa pulang, belum bisa membawakanmu sebuah kabar gembira dari tanah rantau, dan mewujudkan segala harapanmu atasku.

Mungkin kali ini memang aku belum bisa berbakti dan berbuat banyak untuk kebahagiaanmu. Tapi percayalah, Bu, aku akan segera kembali dengan sejuta cinta dan cita-cita yang matang untukmu, untuk masa depan kita. Kau masih bersedia untuk bersabar, kan, Bu?

 

 

Meski raga kita tak bisa saling melengkapi di hari raya nanti, percayalah segala doa selalu kukirimkan padamu di setiap sengal napasku, Bu

Cuma ini modal Hari Rayaku nanti; memandang foto Lebaran tahun lalu. via www.instagram.com

Raga kita memang berjarak nan jauh, tapi hati kita akan selalu bertaut. Begitu pula dengan doa dan rindu yang tiap saat kurapal dan kutimbun untukmu, Bu. Seperti yang sudah kubilang tadi, aku hanya akan menghabiskan sisa Ramadan di kamar kosku. Di situasi itulah segala rindu dalam balutan doa kukirim untukmu pada Sang Pencipta. Maaf, Bu, hanya itu yang bisa kulakukan. Sambil sesekali menyeka air mata dari sedihku yang tak bisa menemuimu.

Bu, kurasa harus kuakhiri suratku ini. Sebab tiada yang bisa kulakukan lagi, bahkan sampai hari raya nanti, Bu. Selain mendoakanmu dan mengenali suaramu lewat ujung telepon genggam setelah salah Id. Serta salam kecup untuk adik dan semua saudara yang berkumpul di kampung halaman. Biarkan aku menikmati pengalaman pertama Lebaran tanpamu di sisi.

 

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Bu!

Salam rindu,

Anak Gadismu