Sekilas Tentang Sejarah Bedug, dari Penanda Waktu Ibadah Sampai Tradisi Seni ‘Ngadulag’

|

Saat berpuasa, selain mengisinya dengan berbagai macam kegiatan, saat-saat menunggu bedug penanda berbuka puasa adalah waktu yang bikin geregetan. Setuju atau nggak setuju pasti ada di antara kalian yang saking nggak sabarnya berbuka, kadang sampai nungguin bedug magrib di teras rumah biar suaranya kedengeran. Meskipun sekarang ini mungkin bedug sudah tergantikan dengan alat yang lebih modern seperti sirine atau alarm, namun bedug masih punya tempat di hati kita.

Sejarah panjang bedug diisi dengan fungsinya sebagai ajakan beribadah, media komunikasi, akulturasi budaya dan perkembangan seni tradisi.

Sekilas tentang menariknya bedug, bagaimana ia menjadi bagian yang terpisahkan dari waktu ke waktu saat bulan Ramadan tiba. Yuk simak rangkuman tentang bagaimana sejarah bedug hingga kita kenal sekarang. Dilansir dari Historia, berikut laporannya yang patut disimak ramai-ramai bersama Lembaran Putih Hipwee!

Sejarahnya masih menjadi misteri tetapi budaya menabuh piranti membran sejenis bedug di Indonesia sudah ada sejak lama

ternyata purwarupa bedug sudah ada dari dulu via wacana.co

 

Dwi Cahyono, seorang Arkeolog dari Universitas Negeri Malang mengungkapkan bahwa sejak masa pra-sejarah umat manusia tepatnya pada zaman logam sudah mengenal piranti sejenis bedug, yaitu nekara dan moko. Nekara dan moko ini terbuat dari perunggu bentuknya tak terlalu mirip dengan bedug , fungsinya pun beragam dari upacara keagamaan, upacara mengundang hujan sampai mas kawin.

Ada yang bilang ‘bedug’ adalah wujud akulturasi budaya dan keberagaman umat manusia

wujud akulturasi budaya via liputan6.com

Pada masa kejayaan kerajaan Hindu, sebuah piranti membran yang mirip dengan bedug juga sudah digunakan. Memang sangat berbeda dengan bedug, dari namanya juga berbeda, mereka menyebutnya “teg-teg”. Bentuknya jauh lebih besar ketimbang bedug. Konon kabarnya, bentuk bedug saat ini juga dipengaruhi oleh budaya Cina Muslim yang dibawa oleh Laksamana Cheng Ho dan pasukannya. Hingga akhirnya mereka menaruhnya di masjid sebagai kenang-kenangan kepada raja daerah tersebut. Akulturasi budaya Muslim di China dan Indonesia lewat piranti bernama bedug bisa dilihat dari bentuk simpul dan pengaplikasian membran bedug dan juga penggunaannya di masjid-masjid Indonesia.

Konon budaya penggunaan bedug di Masjid banyak dipengaruhi oleh para Walisanga sejak abad 15/16 masehi

pembawanya: Walisanga via detik.com

Kabarnya misi Walisanga dalam menyebarkan agama Islam juga nggak terlepas dari kegunaan bedug sebagai ajakan salat lima waktu. Dikulik dari catatan-catatan Kees van Dijk, sebelum abad 20 jarang ditemukan masjid dengan menara tinggi untuk menyerukan adzan. Karenanya, penggunaan bedug sebelum azan sangat berfungsi sebagai tanda masuk waktu beribadah.

Para penjelajah menemukan bahwa memang sejak abad 16 kerap ditemui bedug di masjid dan sudut perkampungan

penanda waktu salat via www.telusurindonesia.com

Masih menurut catatan Dijk, seorang dokter pernah mengunjungi Ternata pada pertengahan abad 16 dan menemukan bedug yang berfunsi memanggil orang-orang untuk berkumpul dan salat di masjid. Kemudian di Banten juga ditemukan bedug di samping masjid yang fungsinya tak jauh beda.

Budaya menabuh bedug juga semakin berkembang, bahkan ada seni tradisi ‘ngadulag’ di beberapa daerah yang bahkan dibuat kompetitif

diadikan seni via nasional.republika.co.id

Zaman berkembang, tradisi pun berkembang. Bedug sebagai penanda masuk waktu salat dan bermacam-macam kegiatan itu kini menjadi sebuah seni tradisi. Tepatnya ‘ngadulag’, sebuah seni menabuh bedug yang lahir dan umum di daerah Jawa Barat. Di Sukabumi bahkan ada sebuah kompetisi untuk mencari bakat penabuh bedug terbaik. Kompetisi dibagi jadi dua kategori, kategori penabuh dengan keindahan bunyinya dan kategori ketahanan menabuh bedug.

Sejarah yang panjang tentang bedug dan tradisinya, selain harus menjaga tradisi khas nusantara ini juga tentunya mangamalkan nilai-nilai di baliknya. Sebagai penanda masuknya waktu salat tentunya sebagai umat Islam, bedug sebagai sarana untuk mengingatkan kewajiban menjalankan salat lima waktu. Tradisi menabuh bedug seperti ‘ngadulag’ juga jadi kebanggan dalam seni tradisi yang erat hubungannya dengan budaya Islam di Indonesia.