Sepenggal Kisah Anak Rantau yang Menjalani Ramadan di Kota Orang

Fatkhur Rozi |

“Kakak sudah buka? Buka pakai apa hari ini”

Air mata di pipi ini menetes tak terbendung ketika pesan singkat yang dikirim oleh Ibu tersebut muncul di layar ponsel pintar. Isinya sederhana. Cuma kalimat tanya singkat yang untuk membuatnya mungkin tak perlu banyak waktu. Kata-katanya biasa dan bahkan penggunaan tanda bacanya ada yang kurang. Maklum, orangtua. Namun makna kalimat tanya tersebut terasa begitu dalam bagi kita yang Ramadan ini berada jauh di perantauan.

Demi menempuh pendidikan dan karier, kita pergi meninggalkan kampung halaman beserta orang-orang yang kita sayang. Rasa rindu setelah lama tak menyapa Ayah dan Ibu sudah mencapai titik puncaknya. Apalagi dalam naungan suasana Ramadan seperti ini, teringat kenangan puasa di rumah bersama Ayah dan Ibu kadang bikin kita mewek sendiri. Dan ketika pesan singkat ini datang, air mata ini tak tertahan. Dua kalimat tanya sederhana tersebut seakan jadi tamparan, “Sejauh apapun jarak memisahkan, orangtua akan tetap selalu ingat dan peduli kepada anaknya”

Ramadan di rumah tak ada yang perlu dikhawatirkan. Sahur ada Ayah yang membangunkan, berbuka ada Ibu yang bikin masakan. Sekarang? Semua serba sendirian

Cuma bisa memilih berbuka puasa di masjid via mamikos.com

Setelah membaca pesan dari Ibu tadi, tetiba sekilas kenangan tentang Ramadan di masa lalu merasuki kepala. “Betapa beruntungnya mereka yang bisa Ramadan di rumah bersama orang-orang tercintanya,” kataku dalam hati. Di rumah, kita tak perlu khawatir. Sahur ada Ayah yang membangunkan dengan hangat dan kala berbuka ada masakan Ibu yang menanti di meja. Berbuka pun tak pernah sendiri. Selalu ada keluarga yang menemani.

Sekarang? Semuanya dilakukan serba sendirian. Agar bangun saat sahur, alarm ponsel yang diandalkan. Yah meskipun sering kali gagal membangunkan. Urusan berbuka, menunya ya cuma seadanya. Kadang kala bahkan lebih memilih untuk berbuka mencari takjil di masjid agar ada teman saat berbuka. Sedih kan, ya?

Mau pertama kali Ramadan jauh dari rumah atau sudah beberapa tahun Ramadan di perantauan, rindu akan masakan Ibu untuk berbuka tetap tak bisa kita bantah

Meski cuma makanan biasa, tapi nggak ada yang ngalahin enaknya masakan Ibu via reseptahu.com

Kenyataannya, mau semahal apapun makanan kita untuk berbuka puasa atau senikmat apapun menu berbuka puasa gratisan di masjid-masjid raya, rasanya tetap tak sebanding dengan masakan Ibu di rumah. Tak cuma perkara rasa, kebersamaan ketika sahur dan berbuka itu loh yang jadi pembeda. Makan bersama dengan keluarga tercinta dan orang lain, jelas lebih nikmat saat menikmati makanan dengan keluarga!

Bagi kamu yang baru pertama kali Ramadan jauh dari rumah, Ramadan tahun ini rasanya jadi Ramadan terberatmu. Belum tuntas adaptasimu untuk hidup di kota orang, sekarang kamu dipaksa harus melewati momen Ramadan jauh dari keluarga kesayangan. Yang sudah bertahun hidup di tanah rantau pun tak jauh beda. Tiap Ramadan datang, ada rindu yang tak bisa terobati kecuali dengan pulang ke kampung halaman; rindu kepada masakan Ibu yang efeknya bisa menyatukan seluruh anggota keluarga di meja makan saat waktu sahur dan berbuka tiba.

Kadang kesal juga ketika kita cuma berbuka dengan nasi dan kecap, tapi orang rumah ngirim gambar mereka tengah buka bersama. Duh, jadi pengen nyusul ke sana

Dikirimi foto orang rumah buber… via pinterest.com

Mengingat-ingat momen Ramadan di rumah membuat kita sedih dan kesal sendiri. Tak ada lagi kehangatan orangtua yang menemani saat Ramadan. Saat sahur biasanya jadi tantangan tersendiri. Mulai dari tak ada yang membangunkan hingga kesulitan mencari makan untuk sahur ujung-ujungnya membuat kita jadi enggan sahur dan memilih makan sekalian sebelum tidur di malam harinya.

Namun momen yang paling bikin kesal biasanya datang saat momen buka puasa. Ketika kita di kamar kosan hanya bisa menyantap nasi, kecap dan kerupuk untuk menu buka puasa, orang rumah justru mengirim gambar mereka tengah buka bersama. Apalagi jika menunya adalah makanan favoritmu. Jatuhnya kamu jadi kesal sendiri karena merasa nggak diajak buka bersama keluarga.

Namun pada akhirnya tetap prioritas yang mengingatkan. Kita sudah dewasa, demi karier dan pendidikan kita harus rela menahan rindu Ramadan di perantauan

Kangen rumah… via hercampus.com

Biar bagaimanapun juga, melalui Ramadan sebulan penuh bersama orangtua adalah kenangan masa kecil yang indah dan tak mungkin terlupa. Sekarang? Kita sudah dewasa dan ditampar oleh realita. Di usia sekian ini kita disuruh untuk memilih mana yang jadi prioritas. Karena itu mau tak mau kita harus mampu menahan rindu Ramadan di kota orang.

Memang ini pilihan yang sulit dan menyiksa. Sedari dulu orangtua telah menemani perjalanan hidup kita. Mau Ramadan atau bulan-bulan lainnya, mereka selalu ada. Sulit bagi kita untuk menyisihkan kenangan tersebut. Yang bisa kita lakukan adalah sabar dan terus menjalani hari-hari di kota rantauan. Sembari menanti libur Lebaran datang agar kita bisa pulang memeluk kedua orangtua di kampung halaman.