Tradisi Bangunin Sahur Hingga Sahur on The Road, Seberapa Pentingkah Maknanya Bagi Masyarakat?

Andrall Intrakta Diysda Crahfidayinallah |

Bulan Ramadan memang menjadi salah satu bulan yang dinanti-nanti oleh seluruh umat Muslim, tanpa terkecuali. Apalagi setelah itu mereka merayakan hari kemenangan, Idul Fitri. Terlepas dari kegiatan ibadah ini, ada satu kegiatan yang kerap dilakukan oleh para anak muda, salah satunya adalah sahur bersama.

Acara sahur bersama atau on the road memang bagus, tapi kalau melihat fenomena masyarakat yang satu ini kerap disalahgunakan sebagai ajang ramai-ramai sambil balapan motor, apakah sebegitu pentingnya? Apakah kegiatan ini benar-benar memiliki manfaat bagi masyarakat dan bagi mereka sendiri? Seberapa penting sih kegiatan di waktu sahur ini? Simak ulasan dari Hipwee berikut ini, ya!

 

 

Kegiatan membangunkan orang sahur, diawali oleh bapak-bapak selepas jaga ronda. Kini, aksi ini digawangi oleh para pemuda di daerahnya masing-masing

Sahuuur, sahuuur! via www.inovasee.com

Kegiatan membangunkan orang sahur dengan berbagai alat musik ini sudah ada sejak lama. Awalnya, kegiatan ini dilakukan oleh Bapak-bapak selepas jaga ronda. Sembari pulang ke rumah masing-masing, mereka berteriak “Sahur” dan semacamnya, untuk membangunkan warga sekitar. Tapi kini kegiatan ini telah dikoordinir dengan baik oleh para pemuda hingga anak-anak dengan berbagai cara di berbagai daerah dengan beragam istilahnya masing-masing. Pada dasarnya, tanpa punya maksud lain, mereka cuma ingin membangunkan orang untuk sahur.

 

Pertanyaannya, seberapa pentingkah kegiatan ini? Apakah semua orang bisa merasakan manfaatnya?

Memangnya semua orang puasa? via kaskus.com

Tapi dewasa kini, kegiatan di jam sahur ini nggak selamanya baik untuk masyarakat. Di beberapa daerah, aktivitas ini malah menjadi ancaman bagi masyarakat sendiri. Pasalnya, sejak dua-tiga tahun lalu, beberapa daerah melalui pihak kepolisian telah mengimbau masyarakat untuk nggak melakukan kegiatan ini. Sebab, mereka menilai hal ini hanya akan memicu tawuran atau bentrok antarpemuda yang turut dalam kegiatan di pagi buta ini.

Selain itu, rasanya juga percuma jika bangunin sahur dengan cara berkeliling dan dengan musik-musik yang melantun dengan keras. Terlebih, hal itu bisa mengganggu mereka yang memang nggak punya kepentingan untuk santap sahur.

 

Selain kegiatan bangunin sahur, aksi Sahur On The Road juga menjadi agenda tersendiri di bulan Ramadan. Seperti apa sih esensinya?

Sahur bersama setelah SOTR. via print.kompas.com

Selain kegiatan membangunkan orang sahur, ada satu lagi aksi atas nama kemanusiaan yang juga dilakukan di waktu sahur. Adalah Sahur On The Road (SOTR), aksi yang sejatinya memberikan santap sahur untuk orang-orang yang pengen ikut puasa tapi terbatasi oleh segala kendala, seperti kaum duafa hingga fakir miskin di pinggir jalan.

Pada dasarnya, kegiatan ini memang menjunjung tinggi solidaritas dan kemanusiaan antarsesama. Dengan menggalang dana, mereka yang berkecimpung dalam aksi ini membagi-bagikan makanan untuk sahur kepada siapapun orang yang mereka temui di sepanjang jalan atau rute yang mereka kelilingi. Mulia sekali, bukan?

 

Tapi nyatanya, SOTR malah jadi ajang para pemuda yang berpotensi memicu keributan. Tawuran warga berkedok aksi mulia!

Data tahun 2014-2015. Kebayang nggak sama data yang sekarang? via print.kompas.com

Terbukti, aksi SOTR pada beberapa tahun lalu menjadi malapetaka tersendiri bagi masyarakat, khususnya di Jakarta. Arak-arakan yang diramaikan oleh para pemuda-pemudi dengan berbagai kendaraan ini malah membuat kericuhan di jalanan. Bentrokan pun nggak terhindarkan. Hingga akhirnya gubernur DKI Jakarta yang pada saat itu masih menjabat, melarang keras kegiatan ini. Meski beberapa elemen masyarakat nggak sedikit yang menentang kebijakannya ini.

Tapi sang gubernur saat itu memiliki alasan yang pasti, karena aksi ini telah melenceng jauh dari esensi yang sebenarnya. Sahur di jalan merupakan aksi kemanusiaan di bulan Ramadan. Tapi kenyataannya, mereka malah melibatkan diri mereka ke dalam aksi rusuh yang berakhir anarki. Maka dari itu, hampir di seluruh daerah, kegiatan ini dilarang keras. Pun dilaksanakan, ada pihak kepolisian yang menjaga aksi mereka.

 

Kalau memang dua kegiatan ini masih mau dilaksanakan, masih ada cara kok biar keadaan nggak jadi rusuh karena tawuran!

Harusnya begini sih. via okezone.com

Sebenarnya, kegiatan bangunin orang sahur dan SOTR memang memiliki tujuan yang baik. Tapi, demi menjaga keamanan dan kenyamanan bersama, ada banyak cara agar kegiatan ini tetap bisa terlaksana, tanpa adanya huru-hara. Seperti misalnya dengan menggunakan mobil keliling dengan sirine untuk membangunkan orang sahur atau dengan pengeras suara dari masjid. Sementara untuk SOTR, bisa saja dengan menyebarkan kupon khusus mereka yang memang layak untuk mendapatkan santap sahur, dan pengambilan makanan bisa dilakukan di pelataran masjid atau rumah Pak RT. Nggak masalah, kan? Yang penting niat dan usaha kita terlaksana dengan baik.

 

Nah, kedua kegiatan yang berlangsung di waktu sahur ini memang telah menjadi tradisi masyarakat kita. Semua yang pada awalnya bernilaikan kebaikan, kini menjadi sebuah keresahan bagi sebagian besar masyarakat. Pun kalau melakukan aksi bangunin sahur atau sahur on the road, mereka harusnya bisa menjaga kenyamanan agar apa yang pengen mereka sampaikan bisa berjalan dengan tertib dan kondusif. Kalau sudah rusuh begitu, apa yang mau disampaikan?